Acara “Jika Aku Menjadi” di Trans TV seolah hadir untuk “menggebuki” hati-hati keras—beku kita. Program menarik ini, buat saya, sanggup tampil juga laku sebagai satire bagi setiap penikmat keleluasaan hidup. Kini, saat semua kemudahan menyerbu keseharian kita—terlebih di sofa-sofa empuk kota-kota besar—ternyata masih ada insan-insan di sudut pelosok sana setiap hari makan sedapatnya, dan tidur bersama hewan gembala. Betapa jurang-jurang sosial bertebaran di negeri subur ini. Di sisi sini, orang menangis ketika artis favorite nya gaga l menggoyang panggung ala western. Sementara di pinggir sana, kakek renta dan bocah kurang gizi menitikkan air mata akibat digoncang rasa lapar hebat. “Jika Aku Menjadi” pada posisi ini sedikit banyak telah menjadi jembatan bagi hati-hati lembut untuk kembali me refresh kepedulian terhadap kaum marjinal Indonesia.
Read the rest of this entry »

  • Facebook
  • Print this article!