SATU

Poin terpenting dalam proses menulis esai adalah membaca. Setidaknya ada tiga makna dari istilah membaca di sini:

Pertama, bacalah sebanyak-banyaknya literatur. Prioritaskan bahan-bahan yang sekiranya menarik bagi Kita. Sebab, semua itu nantinya akan sangat berguna ketika Kita mulai menulis.

Kedua, bacalah tulisan-tulisan esais ternama. Barangkali, Kita akan sedikit terpengaruh oleh gaya menulis mereka. Namun, ada masanya ketika Kita akan menemukan style Kita.

Ketiga, bacalah kaidah-kaidah di dalam membuat esai menggunakan tata bahasa terbaik. Bacaan tersebut akan membimbing Kita menjadi esais beridentitas, dan penghasil esai-esai bermutu tinggi. Sebab, tata bahasa ditambah penguasaan pilihan kata sanggup mewarnai sebuah esai dengan nuansa subur dan penuh arti, selain mampu menjelaskan maksud motif komunikasi Kita.

DUA

Esai dibangun dengan sebuah kerangka sederhana: Pengumpulan data, analisis, dan kesimpulan. Namun, jangan sampai kita terjebak dalam kebingungan. Karena, bisa-bisa tulisan Kita jadi terlalu melebar. Tidak fokus, karena kita belum berhasil memahami arti penting frame kerja tersebut.

Atau Kita mengalami kebuntuan akibat lemah dalam bahan, atau rapuh saat menelusuri data. Walhasil, konklusi dari tulisan terasa hambar. Apalagi, diksi dan tata bahasanya terlampau datar. Gersang. Jadilah esai Kita tersebut seolah sajak terpaksa, sekaligus karya ilmiah paling puitis. Absurd. :D

Artinya, ada tuntutan untuk menulis secepat-cepatnya untuk mempertahankan permainan idea yang meloncat-loncat gesit di benak. Namun, keterpakuan pada “proses sekali jadi” harus sangat dihindari. Ulasan, coretan di sana-sini, gubahan, perpindahan letak antar kalimat, antar paragraf, dan lain-lain (Kita akan mengalami sendiri ketika menulis) merupakan jalan tergagah menuju produk esai bermakna.

Latihan dan kesinambungan dalam belajar sangat menentukan pula. Banyak esais berbakat terpaksa “gulung tikar”, bahkan ketika mereka belum membuka toko! Kita bukan salah satu di antaranya, bukan? Saya yakin, bukan…

TIGA

Sebelum Kita mulai menggarap esai Kita, tentukanlah maksud penulisan esai tersebut. Pesan apa yang terkandung di dalamnya. Apa gunanya bagi orang lain. Bagi Kta. Bagi literatur secara umum. Sekadar eksposisi lempang, atau argumentasi kokoh. Tugas sekolah, kuliah, kantor, corat-coret di blog, kontestan lomba tulis menulis, tuntutan dead line pimpinan redaksi?

Cukuplah sebuah esai bernilai gagal bila hasil akhirnya melenceng dari tujuan esais. Kendati, secara umum, esai tersebut tetap dapat menambah pundi-pundi karya pada porto folio kita.

EMPAT

Secara praksis, maksud penulisan esai adalah menjawab berbagai persoalan. Kenali pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Teliti kata per kata bila perlu. Lantas, tentukan cara, instrumen, dan data untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tinjau berulang-ulang, hingga Kita yakin semua unsur tersebut akan mendukung esai kita. Bukan sebaliknya: Menjadi anti produksi (terutama pada jenis argumentatif: Data kadang dapat mengecoh seorang esais. Kesalahan dalam memilih bahan dapat berujung pada runtuhnya argumen yang susah payah Kita bangun).

LIMA

Bencilah aksi plagiat. Anggap ia racun maut pembawa virus Ebola, tukang jagal bertanduk panas. Plagiat membunuh kreativitas Kita seperti srigala mengoyak anak domba. Singsingkan lengan baju memberantas plagiarisme, karena ia menumbuhkan benih-benih kepalsuan di pucuk-pucuk jemari dan akar-akar benak Kita. Tidak ada bagus-bagusnya.

Enam

Khusus untuk konsumsi internet, pelajarilah serba-serbi SEO (Search Engine Optimization/Penggenjotan Kerja Mesin Pencari) kendati sekadar tahu. SEO memberi denyutan nafas tambahan kepada tulisan Kita supaya dapat berlari lebih kencang di track kompetitif bernama dunia maya. Anggaplah tulisan Kita sebuah produk makanan bergizi, sehingga layak untuk digetok tularkan ke tiap-tiap pintu.

Tujuh

Jauhi sejauh-jauhnya sifat sombong, yakni meremehkan orang lain; menganggap buruk hasil karya orang lain. Ini penyakit berbahaya yang menjangkiti sebagian penulis. Percaya diri tidak pernah bermakna tersebut. Self Confident artinya obyektif: Ketika semua wawasan tentang metode penulisan optimal telah dipraktikkan, kemudian kita merasa telah memenuhi itu semua, maka kita bersyukur telah melakukan yang sekiranya terbaik. Saya berdo’a agar Allah menjauhkan saya dari sifat tercela itu. Aamiin.

Delapan

Lupakan kepuasan untuk sementara. Periksa ulang esai Kita. Periksa ulang esai Kita! Setelah benar-benar yakin, silahkan nikmati kepuasan batin setiap esais manakala berhasil melahirkan sebuah esai.

Selamat menikmati…

Hosting Gratis

  • Facebook
  • Print this article!