Ruang publik nasional kembali geger usai 6 potongan tubuh laki-laki korban mutilasi ditemukan teronggok di dalam kardus. Peristiwa ini semakin menambah panjang daftar kasus serupa di Indonesia. Sebagian ahli alam fikiran manusia menerangkan bahwa faktor dendamlah yang telah memicu para pelaku mutilasi untuk tega membacok-bacok, mengiris-iris, menyayat-nyayat badan utuh secara bengis-kejam. Buat mereka, tebusan nyawa masih kurang untuk melunasi kobaran api angkara yang berkecamuk membabi buta di sekujur hati gelap mereka.

Gejala apa ini? Apakah kita telah berubah menjadi sebuah negeri Mutilasional? Bayangkan kasus sebelumnya: seorang suami membantai istrinya sampai mati berbekal pentungan. Namun, kendati sosok orang yang saban hari capek melayani dan membantunya telah terbujur kaku tak bernafas, ia masih belum puas. Hingga, “tempat penampung” nyawanya pun harus dibikin porak poranda.

Memang, harus kita akui bahwa tekanan amarah kadang teramat bergejolak di dalam jiwa. Banyak kejadian, atau pun keadaan yang sangat rentan untuk “mengompori” emosi yang satu ini untuk meluap-luap sampai ke ubun-ubun. Seperti misalnya faktor ekonomi, romansa, kecacatan dalam muamalah, dan lain-lain. Belum lagi persoalan temperamen yang buat sebagian orang sangat tinggi.

Walaupun begitu—paling tidak buat Saya, sulit sekali merekonstruksi jalan fikiran yang sanggup “membiarkan” dirinya mengayunkan senjata tajam berkali-kali ke tubuh manusia lain dengan tujuan mutilasi. Apalagi, bila korbannya termasuk orang yang dikenal semacam istri, suami, anak, orang tua, saudara, tetangga dan sebagainya. Sudah sedemikian rusaknyakah qalbu seorang “mutilator” sehingga hati itu bisa menyaksikan anggota badannya berbuat penganiayaan hebat pada obyek di hadapannya?

Benar-benar sulit untuk mereka-reka kejadian ketika ia mencacah pangkal leher, lengan, dan kaki dengan senjata tajam. Kemudian, memunguti bagian-bagian tubuh tersebut satu per satu untuk dimasukkan ke dalam wadah, mengatur; mengepas-ngepaskan supaya terbungkus rapi ketika darah berceceran, dan potongan-potongan tangan dan kaki menjuntai-juntai lemas. Belum lagi kepala. Bagaimana kalau mata si korban membelalak? Ah, ngeri sekali….

Ya, Allah tolong jangan izinkan negeri kami menjadi bangsa Mutilasional. Aamiin.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • Print this article!