Si Kepala Bola
Sepak Bola Indonesia Tagged Sepak Bola Indonesia Februari 20th, 2013
Sepak bola telah menjadi olahraga paling terkenal dan dimainkan di seluruh dunia dari waktu ke waktu. Klub -klub didirikan, pemain legendaris, pelatih dan manajer terlahir, gol-gol sempurna dan operan-operan nomer wahid tercipta, entertainment dan uang triliunan mengalir ke jutaan entitas komprehensifnya.
Si Kulit bundar telah membuat kesan yang benar-benar mendalam di hati semua orang. Namun, tragedi membayang-bayangi pula itu semua. Ada orang-orang secara harafiah memberikan nyawa mereka untuk sepak bola, kepada mereka yang Saya sebut “Si Kepala Bola”.
Semua orang ingin berhasil dalam setiap kegiatan mereka. Kita selalu ingin menjadi pemenang: ini adalah sifat dasar manusia! Kita—homo sapien—telah berlomba mati-matian dalam proses reproduksi… Masih ingat? Kita yang hidup sekarang ini adalah juara-juara yang telah menembus semua rintangan menuju “Sang Ratu Ovum”.
Kemudian, selama sekitar sembilan bulan kita menjadi pemilik tunggal dari rahim ibu kita (kembar, Bayi Tabung {IVF—In Vitro Fertilization}, dan kloning tidak kita bahas di sini). Di tempat basah itu, kita adalah seorang penguasa tunggal dari dunia kita sendiri: ruang tanpa pesaing, jika saya boleh tambahkan.
Dan, itu sangat menyenangkan. Bagaimana tidak: semua makanan yang datang terus menerus hanya milik kita seorang. Bayangkan semua hak mutlak tersebut: perasaan yang sangat menakjubkan! Mahal!
Dus, persis seperti itulah rasanya ketika tim sepak bola dukungan kita memenangkan pertandingan. Tidak ada orang lain kecuali kita. The winner takes all, and the looser may fall! (pemenang menjadi pemilik segalanya, sementara pecundang silahkan pergi!) Terutama ketika ada “uang panas” bermain…
Sayangnya, bagi sebagian orang kemengan benar-benar segalanya—segalanya di sini berarti sungguh-sungguh segalanya!—Mereka sangat tidak tahan demi menyaksikan kesebelasan favorit mereka tumbang, lantas pulang ke rumah dengan tangan hampa.
Mereka lantas mencari pembenaran berdasarkan pertimbangan emosional untuk menyeimbangkan perasaan jengkel mereka. Kepala mereka pada fase ini hanya berisi sepak bola. Walhasil, itu menjadikan mereka sebagai “Si Kepala Bola”.
“Si Kepala Bola” adalah penjahat, hooligan, dan pembunuh bahkan. Mungkin hanya Tuhan yang tahu apa yang tengah bertengger di dalam pikiran mereka ketika mereka mulai menghancurkan barang-barang (orang lain) atau menyerang fans dari klub saingannya. Apakah mereka mabuk? Atau, jika mereka tidak mabuk, apakah mereka merasa senang saat melakukan hal tersebut?!
Celakanya, kita punya orang-orang seperti ini di negara tercinta kita Indonesia! Saya tidak faham apakah mereka memiliki latar belakang pendidikan atau tidak. Namun, apa yang mereka lakukan terlihat seperti sesuatu yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang tidak berpendidikan. Ditambah mabuk atau gila, mungkin!
Selain itu, sepak bola Indonesia sedang mengalami saat-saat kritis akhir-akhir ini. Ada dua manajemen kompetisi di negeri ini: PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia dan ISL {Indonesia Super League})—sebagai tambahan, dua-duanya Saya tonton.
Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia baru saja diganti oleh R.M. Roy Suryo, seorang yang ahli dalam bidang komputer. Mudah-mudahan, otak cerdasnya bakal mampu mengeluarkan “kemelut di muka gawang” persepakbolaan tanah air belakangan. Juga, semoga ia sanggup untuk meng-”kick off” sejauh-jauhnya (bahkan kalau bisa keluar lapangan, sampai ke lahan parkir) “Si Kepala Bola”.***








