Review Buku: Thuq al Hamamah (Untaian Kalung Merpati)
Siang Tagged Review Buku: Thuq al Hamamah (Untaian Kalung Merpati) Desember 12th, 2012Para pujangga acap menggambarkan seseorang yang tengah menangis sebagai “berderai air mata”. Namun, fenomena ini tidak berlaku bagi Al Imam Ibnu Hazm al Zhahiri al Andalusi. Lelaki ‘alim (berilmu) ini memiliki semacam kelainan di matanya. Ia tidak dapat mengeluarkan air mata, kendati dalam keadaan sedih. Ia katakan ini dalam buku fenomenalnya, Thuq al Hamamah (Untaian Kalung Merpati).
Sungguh berat menampilkan buku ini hingga sampai pada terjemahan Indonesia: demikian kesan Saya setelah membacanya. Pasalnya, di bagian Kepak Sayap “Merpati” (Kata Pengantar, red.), diungkap bahwa naskah-naskah berbahasa Arabnya tercecer di mana-mana, tidak lengkap masing-masingnya. Sehingga, penterjemah harus bergiat-giat menyatukan piece by piece naskah-naskah tersebut agar buku ini terjilid sempurna, utuh.
Namun, Saya menilai segala jerih payah itu sangatlah tidak sia-sia. Tersebar mutiara mahal di sekujur bab-babnya. Perhiasan yang sulit hadir, kecuali dari buah nurani seseorang yang benar-benar luas ilmunya. Seseorang yang faham agama, sekaligus dunia, dan berjalan dengan pengetahuan tersebut.
Al Imam Ibnu Hazm membeberkan isi dari tiap bab dengan berbagai cerita nyata, contoh kehidupan orang-orang di sekelilingnya. Seperti dalam Bab Hakikat Cinta, ia ungkapkan kisah cinta Abdurrahman ibn al Hakam yang mencintai Daja. Atau pun jatuh hatinya Al Hakam al Muntashir kepada Shabah. Atau, pada Bab Kehadiran Orang Ketiga, ia sebutkan cerita Marwan ibn Ahmad ibn Hudayr, ayah Ahmad ibn Marwan, Musa dan Abdurrahman yang keduanya dikenal dengan sebutan Ibnu Lubna.
Ia pun bersyair:
Jangan lalaikan dirimu dari kebusukan orang ketiga.
Ia selalu mencari jalan untuk memisahkan jalinan cinta.
Betapa sering mereka menawarkan kesegaran air telaga.
Sejatinya kematian, bukan air segar yang mereka bawa.
Atau syairnya yang lain pada Bab Kesetiaan Dalam Cinta:
Ia berpaling, tetapi kubalas dengan kesabaran yang baik.
Meski air mata menetes, aku tetap tegar hadapi sikapnya.
Meski jasad merasa enggan, tetapi hati harus tegar.
Ketika perpisahan tak bisa ditolak, hatiku harus bersabar.
Demikianlah, tidak syak (ragu-ragu) lagi, Al Imam Ibnu Hazm al Zhahiri al Andalusi hendak menyampaikan sesuatu dari buku ini. Saya tidak sanggup menyimpulkan apa-apa, sebab buku ini terlampau banyak mengandung pelajaran yang baik bagi kita. Tergantung dari sudut pandang mana kita menatapnya. Semua terserah kita.***




















Desember 14th, 2012 at 2:58 pm
nice post, sukses selalu gan.
Desember 14th, 2012 at 8:56 pm
Aamiin. Terimakasih.
Desember 17th, 2012 at 10:48 pm
dimana saya bisa mendapatkan buku itu gan thanks atas infonya snagat bermanfat sekali untuk saya……!
Desember 18th, 2012 at 4:01 pm
review bukunya oke banget mas,
Desember 18th, 2012 at 4:10 pm
Terimakasih.
Desember 20th, 2012 at 7:18 am
Di toko buku ada itu. Silahkan hunting sendiri, yah….