Matahari bercerita kepadaku perihal malam dan simpul-simpul mimpi. Tentang bintang yang katanya punya seribu nyawa. Punya senyum sumringah. Punya kisah. Untuk diikat kuat-kuat dengan simpul-simpul mimpi tadi. Untuk mengajak orang duduk sama-sama menikmati siluet dunia di waktu senja.

Namun, matahari berbohong beromong kosong. Ia justru tertawa nyaring, matanya memincing. Geliginya berbaris mengiris. Bersama kawan dekatnya Si Anjing, ia bergunjing. Ia berkelakar kasar, menyebut-nyebut ego, memanggil-manggil menggunakan bahasa pasar.

Kemudian, karena ulah matahari, langit terpaksa rebah ke tanah. Matanya merah, basah, setelah barusan tangisnya pecah. Lirih, dan perih terdengar samar. Seperti ada murka membelit dadanya. Tertahan di antara do’anya yang sunguh-sungguh mengaduh hingga berpeluh. Hingga akhinya ia diam bungkam.

Kini langit benar-benar memusuhi matahari. Tiap bertemu, menyapa malas tak ingin dibalas. Tak mau beretika-etika: beradab basa-basi sedap. Sekadar memandang datar, berharap tak ada kata yang terlempar.

Hari ini, matahari kembali bercerita kepadaku tentang malam dan simpul-simpul mimpi. Namun, enggan kuhiraukan. Karena, aku faham bahwa ia tak lebih dari sekadar pembual bermuka tebal. Cibirannya kepada malam dan simpul-simpul mimpi, sudah membuat langit sedih merintih.

Jakarta, 10 Desember 2012


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • Print this article!