Inikah alasanmu meninggalkanku!!!“, gerah Maneleus, adik Agamemnon, kepada Prince Paris anak Raja Priam (Penguasa Troya) si perebut Hellen dalam epik Yunani Kuno. Lelaki pencinta perang itu, di tanah lapang terbuka di muka benteng itu, merasa dan jelas-jelas unggul ketimbang si Paris (pemuda pucat-lemah yang terus-terusan tersungkur dalam duel antara dia dan suami dari perempuan yang telah diakalinya). Dia berkoar-koar murka: Merasa sangat heran terhadap pilihan istrinya yang menurutnya aneh: Lelaki pengecut pecundang yang tidak becus berkelahi. Ah, perempuan…

Dalam hal ini, Paris memang kurang mawas posisi. Sementara Hellen, terbawa nafsu. Apa susahnya bagi Paris untuk mencari perempuan lain dengan segala kelebihannya? Dia pangeran, muda, dan tampan. Seribu perempuan bisa dia dapatkan bila dia mau. Kenapa harus Hellen, istri orang, pendamping raja yang punya banyak tentara, yang kakaknya ambisius menguasai seluruh Yunani, yang direbut.

Maka, jadilah Hellen reason (alasan) untuk mengobarkan perang. Sedangkan, tujuan perang hanya satu: Menang by all means possible (dengan segala cara). Dan, hingga sampai tujuan itu korban pasti dan pasti bakal berjatuhan. Orang mati, bangunan hangus rata.

“Terbakarlah Troya. Terbakarlah….!” Bukankah demikian umbar Agamemnon, ketika akhirnya kuda kayunya berhasil menusukkan kedunguan ke balik gerbang kokoh negeri kuat itu?

Lihat Hector, sang Putra Mahkota Troya. Ia dibantai Achilles: Tubuh matinya kian kaku oleh tali pecut kereta kuda yang membelit kaki-kakinya. Di atas pasir panas, mukanya hancur akibat seretan bersimuka dengan kerikil. Andai bapaknya tidak mengiba kepada Achilles, barangkali jenazahnya cuma sebagai sarapan burung-burung pemakan bangkai.

Paris.. Paris.. Paris… Ternyata harga Hellen terlampau mahal untuk ditanggungnya. Bahkan untuk dipanggul satu negeri sekali pun. Memang, ia disebut-sebut dapat membunuh Achilles setelah berhasil memanah lelaki tangguh itu tepat di titik lemahnya, di tumitnya. Namun, tetap saja tidak sanggup menutup kerugian mayat-mayat dari pihaknya.

Hellen? Ah, Hellen. Makhluk cantik rupawan ini lupa: Di tangan Paris, ia tetaplah perempuan sebagai pendamping lelaki. Tidak lebih, tidak kurang. Makannya tetap sama, demikian pula minumnya. Pakaiannya tetap sama, demikian pula lemarinya.

Bedanya? Di Troya dia bisa menjadi magnet bagi perang. Sementara di istana Manaleus, ia aman dari gangguan siapa pun (kecuali, mungkin, dari amukan nafsu playboy dungu bernama Paris).***


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • Print this article!