minyak-lepas-pantaiPelestarian energi minyak bumi mutlak dilakukan mengingat sumber daya ini dapat habis seiring proses eksploitasinya dari masa ke masa. Ia tidak dapat diperbarui, sementara kebutuhan konsumsi manusia modern terhadapnya yang kian meningkat tajam otomatis menjadi ancaman besar sebagai pemborosan. Seperti sebuah kue manis, kuantitas minyak bumi cepat dan pasti diserbu oleh konsumen. Kini, ia tampil mirip dengan air atau pun udara bagi makhluk hidup: Tanpanya kehidupan bakal mati lemas, atau minimal lumpuh!

Fenomena tersebut adalah tantangan bagi umat manusia pada Milenium ke-3 , khususnya di Indonesia. Negeri ini adalah salah satu konsumen terbesar minyak bumi sebagaimana negara-negara berkembang lainnya di Asia Pasifik dan Asia Selatan sebesar 58% dari seluruh kebutuhan minyak dunia, dengan pertumbuhan 1,2% per tahun hingga 2030 pada sektor transportasi dan Industri (Laporan World Economic Review 2007, Prior Statistic 2008—Sumber: www.alpensteel.com).

macet-dan-pabrik

Secara kasat mata, kita pun dapat melihat bahwa penggunaan alat transportasi yang menggunakan BBM (Bahan Bakar Minyak) di Indonesia semakin membludak. Indikator tergamblang adalah dengan begitu banyaknya spot-spot kemacetan di mana-mana terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.

Penyumbang terbesar dari gejala ini secara mudah dapat disimpulkan adalah dengan bertambahnya volume jumlah kendaraan yang ada di jalan-jalan. Orang seolah berlomba-lomba untuk memiliki banyak sepeda motor, atau pun mobil pribadi sebagai alat transportasinya agar mudah mencapai tujuan.

Selain itu, dengan bertambahnya jumlah penduduk, industri-industri (pabrik-pabrik) yang notabene menggunakan BBM untuk menjalankan mesin-mesin produksinya tumbuh dengan sangat pesat. Pengusaha-pengusaha yang telah sukses menerobos penjualan dalam jumlah besar terus menambah mesin-mesin tersebut. Sementara, pengusaha-pengusaha baru bermunculan bersama mesin-mesin anyar mereka.

Di titik ini, wacana pelestarian sumber daya energi minyak bumi terasa urgen untuk disemati istilah “Penghematan”, kalau tidak mau disebut “Pengiritan”. Bukan apa-apa, fakta menunjukkan bahwa sumber daya energi ini telah menipis dan—pastinya—tidak dapat diperbarui.

Untuk itu, perlu diambil langkah-langkah yang kongkrit dan sinergis dari segenap elemen masyarakat. Sebuah terobosan yang sekiranya mampu menjawab tantangan pelestarian sumber daya energi minyak bumi.

Salah satunya, barangkali, dengan melakukan extensifikasi teknologi yang sekiranya dapat menggantikan fungsi minyak sebagai bahan bakar. Tantangannya adalah mencari sumber daya energi yang berlimpah yang kuantitas cadangannya jauh melampaui stok minyak bumi.

Sebagai contoh nyata, baru-baru ini di Purworejo beberapa siswa Sekolah Menengah Kejuruan (Teknik Otomotif) atas bimbingan dari guru mereka berhasil merancang mesin mobil berbahan bakar air dengan harga relatif murah. Mobil ini diklaim dapat menggantikan fungsi BBM hingga 100%, dan irit dalam konsumsi air sebagai bahan bakarnya serta memiliki kadar gas buang rendah (mampu menembus Standar Emisi Gas Buang Eropa 4).

Ini merupakan kabar gembira bagi usaha pelestarian minyak bumi. Sebab, seperti telah disinggung sebelumnya, kebutuhan minyak bumi memang didapat secara signifikan dari sektor transportasi. Selebihnya adalah kemauan dari kita untuk mengembangkannya sebagai bagian terbesar dari upaya pelestarian sumber daya energi minyak bumi.

Bayangkan beragam keuntungan yang akan kita peroleh apabila teknologi ini berhasil tampil dalam formatnya yang sempurna, meluas ke mesin-mesin pabrik berbahan bakar air, misalnya. Bumi kita akan bisa bernafas lega dari polusi udara akibat asap dari pembakaran BBM. Sementara, cadangan sumber daya energi minyak bumi kita dapat dihemat karena telah mendapat pengganti yang jumlahnya jauh lebih berlimpah.

Dengan demikian, kita akan menjadi Sobat Bumi yang baik. Sebab, kita telah bisa memberikan energi murni kepada bumi kita tercinta. Yakni, kemauan untuk menjaga bumi ini dari zat-zat polutif, sekaligus melakukan pelestarian terhadap salah satu sumber daya energinya yang telah menipis persediaannya.

Oleh karena itu, semua pihak yang berkepentingan wajib mendukung upaya pengadaan mesin berteknologi tersebut dengan sungguh-sungguh. Barangkali, memang, bakal ada implikasi dari sisi profit. Namun, keuntungan terselamatkannya bumi jauh lebih berharga sebab berkaitan erat dengan generasi penerus, yakni anak cucu kita. Mungkinkah kita tega meninggalkan bumi yang kurus, bau, kotor, dan gundul kepada mereka? Jawabannya ada di lubuk hati kita masing-masing.

Jadi, Sobat bumi yang manakah kita? Yang baik karena rela berkorban, bersusah payah agar bumi terjaga kelestariannya. Atau, yang egois karena melulu mementingkan kesenangan pribadi dan tega membiarkan kemajuan umat luas terabaikan bahkan tersingkirkan?

Ah, macet lagi-macet lagi, gara-gara Si Pongo lewat…***


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • Print this article!