Beberapa waktu lalu ketika orang ramai berbicara tentang pendaratan manusia di bulan, muncul kontroversi: Bagaimana mungkin bendera bawaan astronot dapat berkibar, sementara orbit bumi itu tidak mengandung unsur angin. Man on the moon (M On M—Perjalanan ke bulan) lantas ditengarai sebagai kebohongan publik oleh sebagian kalangan. Pria-pria di video M On M dituding sebagai aktor-aktor pelaku adegan hasil olah studio Hollywood.

Jika—saya memilih berada di luar perdebatan tersebut—kesimpulan ini ternyata fakta, maka justru mengungkap fenomena lebih besar: Simbol-simbol komunikasi telah berhasil menemukan arah menuju industri popularitas berdaya bius kuat. Media massa telah sanggup membobol akal manusia untuk menerima sebuah rekayasa sebagai kenyataan. Hanya bermodal kamera, make up, properti panggung dan proses sunting, seseorang dapat dengan mudah menyulap “angin” menjadi “air”. Palsu menjadi asli.

Seperti peristiwa eksodusnya mayoritas penduduk di sebuah wilayah di Amerika Serikat usai mendengar berita invasi alien. Padahal, warta tersebut sekadar cerita bohong (baca: Fiksi) dari sebuah segmen sandiwara radio rutin berwaktu siar tahunan. Dan, lucunya, warga yang kabur menyelamatkan diri adalah pendengar setia sandiwara radio tersebut. Aneh bukan? Kesadaran mereka pun ikut tertutupi untuk memahami bahwa berita itu hanya teater suara.

Kini teknologi media massa, khususnya internet, semakin maju dan membumi. Tingkat pendidikan rakyat dunia pun kian kompeten, dan bersinergi dengan kemajuan ini. Anak-anak usia sekolah dasar (di Indonesia) sekarang bahkan telah mampu mengup date status Facebook, mengunggah video di You Tube, blogging, apalagi browsing search engine (mesin pencari: Google, Yahoo dan lain-lain). Mereka dapat menelusuri berbagai situs dengan mudah tanpa bantuan orang dewasa.

Sebuah—dari sekian banyak—makna bahwa millenium ke dua telah menisbatkan internet sebagai komparator terbesar televisi sebagai ikon media komunikasi massa. Salah satu implikasinya, trend media (komunikasi massa) sosial—termasuk di Indonesia—akan turut berakselerasi menuju jangkauan lebih luas. Baik dari segi muatan, atau pun khalayak.

Bagi seseorang yang jeli, ini jelas peluang berlian. Bila selama ini “motivasi material” berjargon “harta dan tahta”. Maka, dari sudut industri media massa, itemnya bertambah: “Warta”. Inilah momen ketika popularitas baik sebagai tujuan, mau pun sarana dapat membangun tambang pundi-pundi profit. Pendeknya, internet sebagai media massa adalah alat paling pas untuk mengenalkan suatu entitas kepada dunia. Sebab, hari ini internet memiliki jumlah besar pelanggan setia di seluruh pelosok globe.

Internet adalah etalase virtual bagi barang anda, jasa anda, atau pun anda sendiri. Internet adalah toko maya dari industri komunikasi massa, tempat rekayasa imij sama dengan keuntungan dari segi harta, tahta, dan warta. Bayangkan, kini kita bisa nampak sedang menikmati makan siang di sebuah restoran di bulan bersama seorang selebritis dan mengklaimnya sebagai fakta. Lantas mempromosikan menu makanan kita, tiket travel, dan akomodasi lalu menjadi sohor sekaligus kaya.

Telah tiba zamannya ketika para praktisi pemilik skill teknologi rekayasa industri media massa bakal tampil sebagai ahli-ahli yang paling diinginkan jasanya. Mereka mengemban fungsi agen-agen media sosial pembantu orang-orang untuk menyelami industri media (komunikasi massa) sosial untuk mewujudkan motif tujuan mereka. Seperti tim pemenangan pemilu, mereka membentuk dan melestarikan imij atas nama klien tertentu. Wadahnya, semua media sosial di perut internet.

Belakangan, kita dikejutkan dengan beberapa selebritis “dadakan” yang muncul di video-video di You Tube dan lainnya. Pesohor-pesohor tersebut tenar dan menikmati dunia baru sebagai orang top. Namun, apakah anda sungguh yakin bahwa mereka benar-benar hadir begitu saja tanpa dukungan tenaga profesional dalam bidang media (komunikasi massa) sosial internet? Saya pernah mengunjungi website penyedia jasa periklanan berbasis sosial media, membaca layanan mereka, lalu mulai kritis terhadap proses terjadinya fenomena selebritis dadakan tersebut. Bagaimana.. Jika…

Goyang payung…, Oooo… Goyang payung…***


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • Print this article!