Hari ini, beberapa manusia modern bugil di internet, baik secara harfiah (baca: Sungguhan) mau pun manipulatif (baca: Bohongan) dengan beragam kronologi proses dan aneka maksud. Simbol-simbol seksual berbasis digital menyerbu ruang-ruang dunia maya secara ganas membabi buta.

Pornografi hadir dalam bentuk aksara, foto-foto, hingga gambar bergerak. Berbekal sekali-dua kali klik, orang dapat langsung masuk ke situs atau blog bertema eksploitasi matra-matra seksual untuk menuntaskan apa pun tujuan mereka mengakses link tersebut. Sampai-sampai, sebuah lelucon menyebut bahwa 99 persen pengunjung internet, khusus online untuk menikmati pornografi, sementara sisa 1 persen adalah pasangan mereka, duduk di sebelah mereka saat browsing!

Namun, ini hanya sebagian fenomena kecil dari eksistensi internet—di Indonesia bahkan telah hadir Nawala Project sebagai lembaga sensor link-link “daftar hitam” termasuk link-link pornografi. Sejatinya, internet adalah instrumen untuk memperkuat posisi nama sebuah entitas dari perspektif popularitas dengan bantuan teknologi mutakhir.

Mirip-mirip televisi, namun lebih intens, personal, interaktif, up to date, massal, global, komprehensif dan lain-lain. Internet mengambil peran media berformat digital untuk perlahan namun jelas dan pasti, ketat menyaingi media massa lain.

Sementara, “Bugil” adalah energi. Isu. Idea. Isi pernyataan. Barang dagangan. Energi ini bisa saja mengambil format macam-macam. Misalnya, “Jasa Pindahan”. Atau, “Madu”, “Sepeda Motor”, “Mobil”, “Produk Busana”, dan sebagainya.

Melalui website atau pun blog (baca: Web log), kata-kata ini disebarkan ke seluruh pelosok dunia yang support jaringan world wide web (WWW), atau sejenisnya. Sehingga lantas, semua orang pun dapat mengkonsumsinya sebagai informasi. Sebagai tontonan. Sebagai bacaan. Sebagai iklan. Sebagai ceruk rekreasi. Sebagai….

Di sinilah letak sisi kritisnya. Dari sudut pandang profit, semua variabel internet dapat dimanfaatkan sebagai ladang tempat tumbuhnya “pohon-pohon uang”. Setiap huruf, kata, frase, kalimat, atau pun cerita menyimpan kekuatan untuk mendukung upaya seorang pengguna internet meraup keuntungan finansial. Bahkan, ketika Anda tidak memiliki langsung produk tertentu!

Sekedar ilustrasi: Bila Anda memiliki sebuah blog—dengan format apa pun itu. Katakanlah, Anda adalah penulis pemula, sehingga membatasi diri pada tulisan-tulisan bernuansa curahan hati pribadi dan kadang bisa sedikit ngawur bila mood Anda sendang error.

Namun, Anda tekun dalam mempelajari SEO (Search Engine Optimization/Penggenjotan Kerja Mesin Pencari). Bukan mustahil, dengan secuil sentuhan “motivasi dagang” Anda dapat menaklukkan dunia marketing internet.

Selain itu, sebagai media komunikasi interaktif, internet telah menampilkan performance unggul dalam menghubungkan manusia di seluruh Indonesia dan dunia. Para penggemar kegiatan sosialisasi membentuk beragam komunitas berlatar belakang apa saja.

kesukaan memancing, hobies burung kicau, gowes sepeda, pengguna produk otomotif, pengajian-pengajian, termasuk pula kumpulan bloger-blogger nusantara mau pun lokal atau bertema eksklusif seperti “Kumpulan Blogger Pencinta Esai” dan lainnya.

Juga, ini sudah jadi rahasia umum, banyak sekali di antara lelaki dan perempuan menemukan jodohnya setelah memutuskan untuk mengakses internet, terutama media sosial seperti Facebook, Twitter, 3VOZ, dan lain-lain—ini terjadi pada beberapa kenalan dekat Saya.

Mereka memulainya dengan ping-pong comment, chatting personal, atau sekadar mengirim ikon-ikon asmara di web log masing-masing. Beberapa orang sukses melanjutkan komitmen mereka ke jenjang pernikahan, dan berumah tangga bahagia. Sedangkan sebagiannya memilih untuk mencari suasana lain.

Era milllenium baru kini telah membawa internet sebagai teknologi digital paling berguna sebagai katalis kemajuan. Manusia modern di seluruh penjuru dunia termasuk di Indonesia berkomunikasi, berhubungan satu sama lain, dan mencari penghasilan menggunakan internet. Perlahan-lahan, internet memasuki suatu kondisi ketika kecenderungan orang pada kepraktisan dalam segala hal menemukan momentumnya dengan menguasai teknologi mutakhir.***


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • Print this article!