Acara “Jika Aku Menjadi” di Trans TV seolah hadir untuk “menggebuki” hati-hati keras—beku kita. Program menarik ini, buat saya, sanggup tampil juga laku sebagai satire bagi setiap penikmat keleluasaan hidup. Kini, saat semua kemudahan menyerbu keseharian kita—terlebih di sofa-sofa empuk kota-kota besar—ternyata masih ada insan-insan di sudut pelosok sana setiap hari makan sedapatnya, dan tidur bersama hewan gembala. Betapa jurang-jurang sosial bertebaran di negeri subur ini. Di sisi sini, orang menangis ketika artis favorite nya gaga l menggoyang panggung ala western. Sementara di pinggir sana, kakek renta dan bocah kurang gizi menitikkan air mata akibat digoncang rasa lapar hebat. “Jika Aku Menjadi” pada posisi ini sedikit banyak telah menjadi jembatan bagi hati-hati lembut untuk kembali me refresh kepedulian terhadap kaum marjinal Indonesia.

Bisakah kita pulas dibuai mimpi ketika setiap malam bau kotoran kambing, atau bebek menohok hidung kita karena kita tidur di kandang mereka? Atau, dapatkah kita konsentrasi belajar manakala punggung dan betis-betis kita terlanjur letih-pegal usai membopong berkarung-karung pasir tanpa makan, naik turun bukit di usia 10 tahun? Sementara penerangan gubuk kita hanya sepotong lilin pendek menjilat-jilat ujung-ujung wajah kita siap untuk padam kapan saja. Masihkah lidah kita punya tenaga untuk mengeluh di saat mata kita hanya bisa menatap rumah-rumah beratap mewah dengan pandangan mustahil?

“Jika Aku Menjadi” berhasil memotret ini untuk kita. Sekaligus menyajikan bahwa ternyata orang-orang berlatar belakang ekonomi lemah tidak menjadi miskin karena mereka malas. Sebab, semua tayangan membuktikan bahwa mereka adalah pekerja-pekerja tak kenal lelah, dan pejuang-pejuang tangguh bagi keluarga mereka. Lebih-lebih, mereka adalah orang-orang dengan rasa syukur tinggi. Lihatlah, bingkisan hadiah dari manajemen “Jika Aku Menjadi” selalu ditanggapi mereka dengan kalimat-kalimat pujian kepada Allah, Rabbul Izzah.

Sebaliknya, apakah orang menjadi kaya karena ia pekerja keras? Entahlah. Jelasnya, mari kita niatkan untuk senantiasa mengingat kaum duafa dan mengatakan: “Jika Aku Menjadi” orang berkecukupan, aku akan lebih banyak mengingat orang-orang lemah di sekitarku. Bukankah tangan di atas selalu bernilai terpuji?***


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • Print this article!