Kalo saya ditanya: Manusia pertama berdasarkan Teori Evolusi Darwin atau Nabi Adam?, saya bakal langsung jawab: Nabi Adam. Bukan apa-apa, kalo saya pilih Teori Evolusi Darwin kok kayaknya lebih banyak ruginya daripada untungnya. Pertama: Jelas dosa. Kedua: Ndak enak juga yah, kalo kita ingat kedua orang tua kita. Apa iya ibu kita… Bapak kita… Kita… Ketiga: Kalo kita ke kebun binatang, pas sampai di kandang monyet, rasa-rasanya sulit banget ngebayangin kalo mereka sejatinya saudara kita. Memiliki moyang dan darah daging sama, sebangsa: Bangsa monyet. Saya ndak tahu apa Charles Darwin akan membantah saya atau ndak, tapi kalo saya jauh lebih mending kalo kita yakin Nabi Adam manusia pertama-tama sebagai nenek moyang kita. Monyet??? Nguk-nguk-nguk??? U—U, A—A, U—U, A—A??? Cheetah (monyetnya Tarzan), Wanara (monyetnya Si Buta Goa Hantu)??? Nenek moyang kita? :D

Lagipula, kalo kita perhatikan betul-betul kelakuan monyet dengan keseharian gaya hidup manusia rasa-rasanya beda jauh. Monyet biar ditaruh di mana pun nalurinya seolah-olah ndak bisa lepas dari kegiatan panjat memanjat. Lah, manusia kayanya ndak deh. Malahan saking ndak-nya, manusia menciptakan tangga, titian, lift, dan eskalator untuk menggantikan panjat memanjat. Kalo dipikir-pikir, kalo manusia punya kesamaan dengan monyet kenapa ndak terdorong bikin alat panjatnya tali saja gitu, atau tiang seperti milik pemadam kebakaran saja. Kan lebih mengakomodasi insting kemonyetan.

Dan, kelihatannya saya ndak sendiri. Seluruh kebun binatang di dunia pun sependapat dengan saya bahwa asal usul manusia bukan berdasarkan Teori Evolusi Darwin. Lihat deh, di kandang-kandang monyet pasti dihiasi dengan pohon-pohon, atau pernak-pernik bernuansa hutan. Ndak pernah saya temukan kebun binatang menyediakan sofa, spring bed, tivi, atau ATM gitu buat monyet-monyetnya, kalo siapa tahu mendadak berevolusi naik derajat jadi manusia purba.

Juga kamar mandi, ndak pernah ada kamar mandi di kandang monyet. Kalo manusia memang punya kemiripan asal-usul mirip monyet, kan mestinya disiapkan kamar mandi. Manusia, seperti kita tahu, senang bersih-bersih di kamar mandi. Monyet juga, dong seharusnya. Minimal cuci muka lah.

Tapi kenyataannya, monyet itu lebih parah dari anak BATITA (usia di bawah tiga tahun). Kalo kencing dan ‘e-e sembarangan. Kadang di tempatnya tidur, kadang di tempatnya makan, kadang di perut pasangannya… Waktu sedang kawin. Apalagi kalo pas kena diare, hadeuh… Sambil gelantungan! Rasa-rasanya saya ndak pernah dengar berita manusia ‘e-e di atas perut istrinya sambil gelantungan waktu sedang kawin. Mudah-mudahan ndak pernah terjadi.

Bahkan tukang Sarimin dan sirkus-sirkus “memanusiakan” monyet nampaknya untuk motif finansial semata supaya usahanya laku, atau karena sayangnya mereka pada hewan. Kalo untuk mempercepat proses sesuai Teori Evolusi Darwin kelihatannya ndak sejauh itu. Buktinya Tukang Sarimin dari dulu sampai sekarang kasih tugasnya ndak berubah ke Sarimin. “Sarimin pergi ke pasar!”, “Sarimin dorong gerobak!”, “Sarimin memakai payung!”, dan lain-lain semacamnya. Ndak pernah ada Tukang Sarimin bilang: “Sarimin pergi sekolah!”, “Sarimin belajar baca!”, atau “Sarimin menulis pakai pulpen!”.

Jadi, saya pikir monyet ndak memiliki kemiripan asal-usul dengan manusia. Mungkin lebih dekat dengan lutung, kera, cimpanse, siamang, kunyuk, beruk, orang utan, gorila, king kong, dan lain-lain. Kemudian, kalo memang proses evolusi itu terbukti ada, berarti manusia sekarang sedang berevolusi juga. Jadi apa? Superman? Hulk? Satria Baja Hitam? Atau mungkin Gatot Kaca? Atau Brama Kumbara? Sekarang jadi PNS saja susahnya bukan main, apalagi jadi karakter-karakter di atas.

Oh, iya. Saya punya link menuju Trailer Film Baru Berjudul Mama Cake (Film Indonesia). Silahkan dinilai apakah berkaitan dengan Darwin, Monyet, dan Nabi Adam atau ndak>. Klik Di Sini.***

Postingan ini untuk mengikuti Kompetisi Blog Mama Cake

Hosting Gratis


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • Print this article!